Baca Berita

Berita Resmi Statistik

Oleh : statistik | 06 Februari 2013 | Dibaca : 3036 Pengunjung

Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 11/02/51/Th. VII, 5 Februari 2013  PDRB Bali triwulan IV-2012 tumbuh sebesar 1,60 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q), dan tumbuh sebesar 6,94 persen apabila dibandingkan dengan triwulan IV-2011 (y-on-y).  Besaran PDRB Bali atas dasar harga berlaku pada triwulan IV tahun 2012 mencapai Rp 22,05 trilyun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp 8,46 trilyun.  Sumber utama pertumbuhan ekonomi Bali Triwulan IV-2012 q-to-q adalah sektor jasa-jasa yaitu sebesar 0,45 persen dan y-on-y adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) sebesar 1,65 persen  PDRB Bali tahun 2012 meningkat sebesar 6,65 persen dibanding tahun 2011. Peningkatan tersebut terjadi di semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor konstruksi yaitu sebesar 18,67 persen dan terendah pada sektor pertanian yaitu 3,37 persen.  Besaran PDRB Bali tahun 2012 mencapai Rp 83,94 trilyun atas dasar harga berlaku, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp 32,80 trilyun.  Sumber utama pertumbuhan ekonomi Bali adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,84 persen, diikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar 1,11 persen.  Perekonomian Bali pada triwulan IV-2012 yang tumbuh 1,60 persen (q-to-q) persen secara umum didukung oleh pertumbuhan yang terjadi pada semua komponen penggunaan.  Tumbuhnya perekonomian Bali dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya didorong oleh pertumbuhan komponen pengeluaran rumahtangga, PMTDB dan ekspor dengan share pertumbuhan masing-masing sebesar 0,90 persen, 6,49 persen, dan 2,71 persen.  Kondisi perekonomian tahun 2012 relatif lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya semua komponen penyusun PDRB. Pengeluaran konsumsi masyarakat sampai dengan triwulan IV-2012 tumbuh 3,50 persen.  Secara spasial kontribusi terbesar pembentukan perekonomian Bali Triwulan IV-2012 disumbang oleh Kabupaten Badung sebesar 25,46 persen dan Kota Denpasar sebesar 20,98 persen. Untuk sumber pertumbuhannya (Source of Growth) Triwulan IV-2012 baik q-to-q maupun y-on-y disumbang oleh Kabupaten Badung sebesar 0,37 persen dan 1,62 persen. No. 11/02/51/Th. VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN IV TAHUN 2012 1. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 2012 Siklus pertumbuhan ekonomi triwulanan dipengaruhi oleh faktor musim. Pergantian musim yang terjadi memberikan dampak bagi terciptanya besaran nilai tambah di masing-masing sector perekonomian. Seperti yang terlihat pada pertumbuhan ekonomi di triwulan IV tahun 2012 ini. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Bali pada triwulan IV tahun 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 1,60 persen. Pertumbuhan yang terjadi ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 2,49 persen. Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV-2012 ini sebagai akibat dari melambatnya pertumbuhan beberapa sector dominan yang cukup dalam seperti sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), bahkan sektorangkutan mengalami kontraksi sebesar 0,22 persen. Empat sektor yang juga tumbuh melambat yaitu sektor pertambangan, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air minum (LGA), sector keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Sementara sektor lainnya yaitu, sektor pertanian, sector konstruksi, dan sektor jasa-jasa tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jika dilihat per subsektor melambatnya sektor PHR pada triwulan IV 2012 terjadi akibat melambatnya pertumbuhan subsektor perdagangan. Perlambatan subsektor ini terkait dengan melambatnya pertumbuhan pada sektor riil seperti sektor penggalian dan industri pengolahan. Dari data yang disajikan terlihat bahwa pada triwulan IV-2012 sektor penggalian dan sektor industry pengolahan tumbuh sebesar 3,76 persen dan 2,62 persen lebih lambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,00 persen dan 2,84 persen. Pada sektor pertanian,walaupun secara total tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, namun secara subsektor tercatat terdapat 3 (tiga) subsektor yang mengalami perlambatan bahkan kontraksi yaitu subsektor perkebunan dan subsektor kehutanan yang mengalami kontraksi sebesar 5,16 persen dan 1,36 persen, sedangkan subsektor peternakan dan perikanan tumbuh melambat sebesar 1,02 persen dan 0,74 persen. Selain subsektor perdagangan, subsektor perhotelan juga tetap tumbuh namun melambat. Berdasarkan data tingkat penghunian kamar (TPK), untuk hotel bintang pada triwulan IV-2012 ratarata TPK mencapai 63,20 persen, meningkat tipis jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 62,22 persen. Berdasarkan klasifikasi bintang, tercatat TPK hotel bintang 4 (empat) lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari 64,62 persen menjadi 63,12 persen. Penurunan yang terjadi menyebabkan terjadinya perlambatan pertumbuhan di subsektor hotel, mengingat hotel bintang 4 (empat) mempunyai kontribusi yang besar terhadap penciptaan nilai tambah pada sub sektor hotel. Klasifikasi hotel non bintang, pada triwulan IV-2012 ini rata-rata juga mengalami penurunan dari 41,20 persen menjadi 35,35 persen. Namun penurunan pada kedua klasifikasi hotel tersebut ditopang oleh peningkatan tingkat penghunian kamar pada klasifikasi lainnya, yang secara total menyebabkan sektor PHR tetap tumbuh walau melambat. Data lain menunjukkan bahwa pada tingkat kunjungan wisman, jumlah wisman yang berkunjung ke Bali pada triwulan IV 2012 sebesar 766 ribu orang, sementara pada triwulan sebelumnya sebanyak 783 ribu orang. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran dimana untuk hotel berbintang tidak lagi didominasi oleh wisatawan mancanegara, akan tetapi wisatawan domestik pun pada saat ini telah menjadikan hotel berbintang sebagai tempat favorit untuk menginap. Pada subsektor restoran, perlambatan yang terjadi lebih disebabkan karena terjadinya perlambatan pada subsektor hotel, mengingat kedua subsektor tersebut mempunyai keterkaitan dan korelasi yang cukup erat, atau dengan kata lain saling mempengaruhi. Selanjutnya faktor yang mempengaruhi perlambatan pertumbuhan perekonomian pada triwulan IV-2012 adalah turunnya pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi bahkan sampai mengalami kontraksi yaitu minus 0,22 persen. Kontributor utama terhadap turunnya laju pertumbuhan di sektor ini adalah terjadi kontraksi pada subsektor pengangkutan (transportasi) sebesar minus 0,29 persen, angka ini lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 3,40 persen. Sedangkan pada subsektor komunikasi hanya mampu tumbuh 0,09 persen atau melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,05 persen. Turunnya kunjungan wisatawan ke Bali pada triwulan IV kali ini berdampak langsung pada daya angkut penumpang melalui jalur pelabuhan ASDP di Pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai, jalur angkutan darat, maupun melalui jalur Bandara Ngurah Rai. Adanya fenomena Hari Raya Keagamaan pada triwulan pada triwulan III-2012 yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Galungan yang mendorong arus mudik menyebabkan terjadinya peningkatan penumpang maupun barang yang juga meningkatkan nilai tambah sektor angkutan pada triwulan III- 2012 dan ketika fenomena tersebut tidak lagi terjadi pada triwulan IV-2012 ini, otomatis hal tersebut akan menurunkan pertumbuhan pada sektor tersebut. Berdasarkan data yang ada tercatat untuk Triwulan IV-2012, daya angkut penumpang melalui jalur udara mengalami penurunan sebesar 1,96 persen. Demikian pula halnya melalui jalur ASDP, di Pelabuhan Padangbai terjadi penurunan angkutan barang sebesar 40,33 persen dan di Pelabuhan Gilimanuk, penumpang turun cukup signifikan di atas 50 persen. Seperti pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan ini, masih ditunjang oleh sektor bangunan, sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Untuk sektor pertanian, pertumbuhan pada triwulan IV-2012 ini masih ditunjang oleh pertumbuhan sub sektor tanaman bahan makanan khususnya padi yang mengalami peningkatan produksi di atas 40 persen. Selain sektor pertanian, sektor konstruksi juga mengalami hal yang sama. Pembangunan infrastruktur dalam rangka pelaksanaan pertemuan APEC yang direncanakan akan berlangsung ada bulan September 2013, memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan sektor tersebut termasuk pula pertumbuhan ekonomi Bali. Triwulan ini sektor bangunan tumbuh sebesar 6,06 persen, lebih cepat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,30 persen. Realisasi pengerjaan bandara yang telah mencapai 73,67 persen per Desember 2012 dengan nilai investasi sebesar 2,58 triliun dan proyek-proyek lainnya telah menyumbang terhadap pertumbuhan sector konstruksi. Hal ini dapat pula dilihat dari peningkatan realisasi pengadaan semen untuk Provinsi Bali sebesar 22,65 persen. Selain kedua sektor tersebut, tercatat sektor jasa-jasa juga mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan ini. Sektor ini tumbuh sebesar 3,13 persen lebih cepat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,40 persen. Di sisi lain sektor jasa-jasa juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pendorong utama pertumbuha sektor ini disebabkan karena peningkatan pada sub sektor pemerintahan umum khususnya pada administrasi pemerintahan dan pertahanan yang mencapai 4,09 persen. Pertumbuhan tersebut berkaitan dengan adanya peningkatan penyerapan anggaran langsung maupun tak langsung. Jika dilihat dari besarnya sumbangan terhadap total pertumbuhan, sektor jasa-jasa tercatat sebagai penyumbang terbesar terhadap total pertumbuhan secara q-to-q dengan sumbangan mencapai 0,45 persen, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) dan sektor bangunan dengan sumbangan yang sama sebesar 0,27 persen. Sedangkan secara y-on-y, sumbangan terbesar terhadap total pertumbuhan diberikan oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,65 persen, diikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar 0,96 persen. 2. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Perkembangan PDRB Provinsi Bali baik atas dasar harga berlaku maupun konstan cenderung terus meningkat. Berdasarkan harga berlaku, pada triwulan I tahun 2012 PDRB Bali baru mencapai Rp 19,77 trilyun kemudian meningkat menjadi Rp 20,68 trilyun di triwulan II tahun 2012, dan pada triwulan III tahun 2012 angkanya kembali meningkat menjadi Rp 21,44 trilyun dan terus meningkat di triwulan IV menjadi Rp 22,05 trilyun. Sehingga sampai dengan triwulan IV tahun 2012 PDRB Bali atas dasar harga berlaku telah mencapai Rp 83,94 trilyun atau meningkat sebesar 13,39 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara berdasarkan harga konstan tahun 2000, terjadi peningkatan dari Rp 7,90 trilyun pada triwulan I, menjadi Rp 8,12 trilyun pada triwulan II, lalu menjadi Rp 8,32 trilyun pada triwulan III, dan menjadi Rp 8,46 trilyun pada triwulan IV sehingga secara kumulatif telah mencapai Rp 32,80 trilyun atau meningkat sebesar 6,65 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan IV tahun 2012 terlihat bahwa sektor perdagangan, hotel, dan restoran masih menjadi sektor dengan nilai tambah terbesar, yaitu mencapai Rp 6,63 trilyun untuk harga berlaku dan Rp 2,71 trilyun untuk harga konstan. Tempat kedua juga masih diduduki oleh sektor pertanian dengan nilai tambah sebesar Rp 3,68 trilyun untuk harga berlaku dan Rp 1,54 trilyun untuk harga konstan. 3. Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Sejalan dengan besarnya nilai tambah masing-masing sektor, struktur perekonomian Provinsi Bali yang dilihat dari kontribusi masing-masing sektor terhadap pembentukan PDRB masih ditopang oleh dua sektor dominan yaitu: perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pertanian. Kedua sector ini memberi kontribusi masing-masing sebesar 30,08 persen dan 16,68 persen pada triwulan IV tahun 2012 demikian pula untuk tahun 2012 kedua sektor tersebut tetap merupakan konstribusi terbesar dengan nilai 30,23 persen dan 16,84 persen. Secara umum perekonomian Bali masih didominasi oleh sektor tersier. Hal ini sebagai akibat dari multiflier effect yang ditimbulkan dari perkembangan sector perdagangan, hotel, dan restoran, khususnya pariwisata, dimana seperti diketahui Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata favorit. 4. Pertumbuhan Ekonomi Bali Tahun 2012 Ekonomi Bali pada tahun 2012 tumbuh sebesar 6,65 persen dibanding tahun sebelumnya, yang tercermin dari peningkatan nilai PDRB Bali atas dasar harga konstan 2000 yaitu dari Rp 30,76 trilyun menjadi Rp 32,80 trilyun. Sementara jika dilihat dari harga berlaku, PDRB Bali meningkat sebesar 13,39 persen, yaitu dari Rp 74,03 trilyun menjadi Rp 83,94 trilyun. Selama tahun 2012, semua sektor tercatat mengalami pertumbuhan, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor konstruksi sebesar 18,67 persen, kemudian diikuti oleh sektor penggalian 15,25 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 9,18 persen, sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 9,08 persen, sektor jasa-jasa sebesar 7,78 persen, sektor angkutan dan komunikasi sebesar 7,56 persen, industri pengolahan tumbuh sebesar 6,04 persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 5,65 persen dan terakhir sektor pertanian tumbuh sekitar 3,37 persen. Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, terdapat dua sektor dominan yaitu sector perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor jasa–jasa yang menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan sumbangan masing-masing 1,84 persen dan 1,11 persen. Hal ini tentu saja terkait dengan besarnya nilai tambah yang mampu diciptakan oleh kedua sektor tersebut. 5. PDRB Provinsi Bali Menurut Penggunaan Pada triwulan IV tahun 2012, total nilai tambah atau PDRB yang tercipta dalam kegiatan perekonomian di Provinsi Bali sebesar 22,05 trilyun rupiah. Dari total PDRB Bali tersebut, sebesar Rp 12,34 trilyun (55,96%) dibentuk oleh komponen konsumsi rumahtangga. Sementara komponen konsumsi lembaga swasta nirlaba sebesar Rp 0,18 trilyun (0,81%); konsumsi pemerintah Rp 3,07 trilyun (13,93%); pembentukan modal tetap domestik bruto atau investasi fisik Rp 8,04 trilyun (36,47%); perubahan stok/inventori Rp 0,08 trilyun (0,34%); serta ekspor - impor masing-masing sebesar Rp 23,51 trilyun (106,64%) dan Rp 25,17 trilyun (114,13%). Perekonomian Bali pada triwulan IV-2012 tumbuh sebesar 1,60 persen dibandingkan dengan triwulan III-2012. Pertumbuhan ini secara umum didukung oleh pertumbuhan yang terjadi pada semua komponen penggunaan. Komponen konsumsi rumahtangga tumbuh sebesar 0,27 persen, konsumsi lembaga swasta nirlaba meningkat 2,58 persen, dan konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan 7,95 persen. Demikian pula terjadi perubahan inventori dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu meningkat sebesar 1,40 persen. Komponen ekspor meningkat sebesar 1,49 persen. Peningkatan pada komponen ekspor ternyata jauh dibandingkan dengan pertumbuhan pada sisi impor yang tumbuh sebesar 4,30 persen. Jika dibandingkan triwulan IV tahun sebelumnya (y-on-y), pengeluaran konsumsi rumahtangga tumbuh 1,50 persen; pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba tumbuh 5,60 persen; pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 6,10 persen; pembentukan modal tetap domestik bruto tumbuh 23,19 persen; dan perubahan inventori tumbuh melambat sebesar 23,03 persen. Sementara itu, ekspor dan impor masing-masing tumbuh 3,54 persen dan 8,22 persen. Tumbuhnya perekonomian Bali dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya didorong oleh pertumbuhan komponen pengeluaran rumahtangga, PMTDB, dan ekspor dengan share pertumbuhan masing-masing sebesar 0,90 persen, 6,49 persen dan 2,71 persen. Peranan masing-masing komponen penggunaan dalam pembentukan PDRB di Provinsi Bali pada triwulan IV-2012 tidak banyak mengalami perubahan. PDRB Bali masih didominasi oleh pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga, meskipun mengalami penurunan share jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari 57,18 persen pada triwulan III-2012 menjadi 55,96 persen pada triwulan IV-2012. Sementara itu, meski ekspor (terkait ekspor barang/jasa ke luar negeri dan antar pulau) memberi kontribusi yang cukup besar (106,64%), peranan komponen impor juga cukup tinggi (114,13%) baik impor luar negeri maupun antar daerah, sehingga net ekspor Bali hanya memberi kontribusi yang kecil bagi perekonomian. Pada triwulan IV-2012, konsumsi lembaga swasta nirlaba 0,81 persen; konsumsi pemerintah 13,93 persen; pembentukan modal tetap domestik bruto atau investasi fisik 36,47 persen. Pada tahun 2012, kondisi perekonomian relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya semua komponen penyusun PDRB. Pengeluaran konsumsi masyarakat sampai dengan triwulan IV-2012 tumbuh sebesar 3,50 persen. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba juga mengalami peningkatan 7,22 persen. Indikasi positif juga ditunjukan pada Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi), dan Ekspor yang masing-masing tumbuh 3,74 persen, 19,28 persen dan 4,34 persen. Peranan Konsumsi Rumah Tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto atau investasi fisik, dan Ekspor masih dominan mendongkrak pertumbuhan pada tahun ini. Masing-masing peranan komponen pengeluaran tersebut terhadap pertumbuhan perekonomian pada tahun 2012 di Provinsi Bali yaitu sebesar 2,11 persen, 5,17 persen, dan 3,30 persen. Kondisi perekonomian Provinsi Bali Tahun 2012 dapat dikatakan cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai pertumbuhan ekonomi secara year on year sebesar 6,65 persen, dimana target pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2012 mencapai 6,57 persen. Hal ini dikarenakan tingginya pertumbuhan pada komponen pembentukan modal tetap domestik bruto atau investasi fisik yang terjadi di Provinsi Bali. Tingginya pertumbuhan komponen tersebut tentunya tidak terlepas dari pembangunan sarana dan prasarana publik yang menunjang kegiatan perekonomian Bali seperti adanya perluasan Bandara Ngurah Rai, pembangunan jalan tol di atas perairan, dan pembangunan sejumlah sarana infrastruktur lainnya. 6. Profil Spasial Ekonomi Antar Kabupaten di Provinsi Bali Triwulan IV Tahun 2012 Secara spasial, struktur perekonomian di Bali masih belum banyak berubah. Perekonomian Bali masih didominasi oleh Wilayah Bali Selatan yaitu posisi pertama ditempati oleh Kabupaten Badung dan posisi kedua ditempati oleh Kota Denpasar dengan kontribusi masing-masing sebesar 25,34 persen dan 20,72 persen pada Triwulan IV-2011 dan kemudian menjadi 25,46 persen untuk Kabupaten Badung dan 20,98 persen untuk Kota Denpasar pada Triwulan IV-2012. Wilayah lain yang juga memberikan kontribusi yang cukup besar di luar kedua wilayah tersebut adalah Kabupaten Buleleng, Gianyar, dan Tabanan. Namun jika dilihat dari lokasi keberadaannya, selain Kabupaten Buleleng, kedua kabupaten tersebut masih merupakan wilayah Bali Selatan sehingga hasil-hasil pembangunan cenderung masih terpusat. Kondisi ini perlu mendapat perhatian agar hasil pembangunan dapat dinikmati lebih merata di seluruh wilayah di Provinsi Bali. Jika dilihat dari sumber pertumbuhan (Source of Growth) Triwulan IV-2012 (q-to-q) perekonomian Bali yang mengalami pertumbuhan sebesar 1,60 persen, sumbangan terbesarnya datang dari Kabupaten Badung yaitu tumbuh sebesar 0,37 persen. Ini memperlihatkan bahwa kondisi perekonomian Bali sangat tergantung pada perekonomian Kabupaten Badung mengingat sector pariwisata yang memberikan share tertinggi kepada Perekonomian Bali sebagian besar berlokasi di Kabupaten Badung. Demikian pula halnya pertumbuhan ekonomi secara y-on-y, perekonomian Bali Triwulan IV-2012 mampu tumbuh sebesar 6,94 persen salah satunya tidak terlepas dari sumbangan Kabupaten Badung sebesar 1,62 persen dan Kota Denpasar sebesar 1,54 persen


Oleh : statistik | 06 Februari 2013 | Dibaca : 3036 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Foto
Kegiatan persembahyangan bersama pada saat pelaksanaan kegiatan SENSUS EKONOMI 2006
Video
No Video.
Facebook
Twitter